Kuliah Umum Program Studi  Linguistik Pascasarjana Undana
Kuliah Umum Program Studi  Linguistik Pascasarjana Undana

Kuliah Umum Program Studi Linguistik Pascasarjana Undana

KULIAH UMUM S-2 ILMU LINGUISTIK PPs UNDANA
METABAHASA SEMANTIK ALAMI (MSA)
NATURAL SEMANTICS METALANGUAGE (NSM)

Menyadari kekayaan bahasa lokal Nusa Tenggara Timur, Prodi S-2 Ilmu Linguistik menyenggarakan kuliah umum dengan judul “Metabahasa Semantik Alami (MSA). Kuliah umum ini dilaksanakan pada Selasa 1 November 2022 di Aula Program Pascasarjana Universitas Nusa Cendana. Hadir sebagai pemateri Dr. Efron E.Y Loe, M.Hum dan dimoderatori oleh Dr. Diaspora, M,Hum.

Sebagai seorang linguist, Dr. Efron banyak meneliti tentang bahasa Rote terutama berkaitan dengan Metabahasa Semantik Alami. Ia menuturkan, NTT kaya dengan bahasa daerah (Bahasa Ibu). Melalui Bahasa Ibu kita dapat menangkap pengetahuan masyarakat tradisi.

Dalam kuliah umum ini, ia fokus pada teori MSA/NSM. Pelopor utama teori MSA/NSM adalah seorang Dosen di Universitas Nasional Australia, Anna Wierzbicka. Beliau adalah Ahli semantik, berketurunan Polandia. Ia menekuni bidang ini bersama dengan beberapa sahabatnya: Cliff Goddard, Felix Ameka, Hilary Chappell, dan Jean Harkins. Wierzbicka mengembangkan teori MSA/NSM melalui penelitian semantik lintas bahasa.

Teorinya diawali dengan penyelidikan makna asali (semantic primitives) dan hasil dari temuannya lalu diterbitkan dalam bentuk buku, yaitu: Semantic Primitives (1972). Wierzbicka melanjutkan penelitiannya dengan tetap mempertahankan tujuan dasar dari rancangan penelitiannya, yaitu menyelidiki makna asali.

Adapun daftar Bahasa yang diteliti oleh Anna Weirzbicka terhadap bahasa-bahasa dari kelompok dan benua yang berbeda, seperti bahasa Ewe (Afrika Barat), bahasa China, Mandarin, bahasa Thai dan bahasa Jepang, bahasa Yakuntjajara (Australia), bahasa Arrernte (Aranda), bahasa Kayardild, bahasa Missulmalpan (Nicaragua), bahasa Aceh, bahasa Indonesia, bahasa Longgu (Kepulauan Solomon), bahasa Samoan dan bahasa Mangap Mbula (Papua Nugini), bahasa Kalam (Papua) dan bahasa–bahasa Eropah seperti bahasa Inggris, bahasa Melayu dan Prancis.

Teori Metabahasa Semantik Alami mengkombinasikan tradisi filsafat, logika dalam kajian semantik dengan pendekatan tipologi terhadap studi bahasa berdasarkan atas penelitian empiris lintas bahasa (Weirzbicka, 1996:23). Dengan cara demikian diharapkan mampu memberikan gambaran tentang komponen dan struktur semantik.

Dalam teori MSA terdapat sejumlah konsep teoritis penting, seperti makna asali, aloleksi, polisemi, pilihan valensi  dan sintaksis MSA. Makna Asali, adalah perangkat makna yang tidak dapat berubah karena diwarisi manusia sejak lahir (Goddard, 1996:2). Makna ini merupakan refleksi dari pikiran manusia yang mendasar. Makna asali dapat dieksplikasi dari bahasa alamiah (ordinary language) yang merupakan satu-satunya cara dalam merepresentasikan makna (Weirzbicka, 1996:31).

Eksplikasi makna tersebut harus meliputi makna kata-kata yang secara intuitif berhubungan atau sekurang-kurangnya memiliki medan makna yang sama, dan makna kata-kata itu dianalisis berdasarkan komponen-komponennya. Seperangkat makna asali diharapkan dapat menerangkan makna kompleks menjadi lebih sederhana tanpa harus berputar-putar, seperti yang dikemukakan oleh Weirzbicka (1996:12); Goddard (1994:2) dalam kutipan di bawah ini.

      It is impossible to define all words. In defining we employ a definition to express the idea which we want to join to define word; if we then wanted to define “the definition still other words would be needed, and so on to infinity. Hence, it is necessary to stop at some primitive words which are not defined.

Teori Metabahasa Sematik Alami dirancang untuk: (1) mengeksplikasi semua makna, baik makna leksikal, makna gramatikal maupun makna ilokusi. (2) Pendukung teori ini percaya pada prinsip bahwa kondisi alamiah sebuah bahasa adalah mempertahankan satu bentuk untuk satu makna dan satu makna untuk satu bentuk; (3) dalam teori MSA eksplikasi makna dibingkai dalam sebuah metabahasa yang bersumber dari bahasa alamiah.

Asumsi dasar yang dianut teori MSA yaitu menyatakan bahwa analisis makna akan tuntas, dalam arti makna kompleks apa pun dapat dijelaskan tanpa perlu berputar-putar dan tanpa residu dalam kombinasi makna diskret yang lain (Goddard 1994, dan 1996, Wierzbicka 1996). Namun untuk mencapai ketuntasan dalam menganalisis makna harus menggunakan perangkat makna asali sebagai elemen akhir, yaitu sebuah perangkat makna tetap yang diwarisi manusia sejak lahir.

Contoh cara kerja teori Natural Semantics Metalanguage, salah satu judul sebagai sampel cara keja dari teori ini:

MAKNA VERBA ‘MEMANEN’ BAHASA ROTE DIALEK DENGKA:

KAJIAN METABAHASA SEMANTIK ALAMI (MSA)

 

    Verba ‘memanen‛  dalam  BRDD  yang  ditemukan  enam varian leksikon, yaitu:  etu, seu, poda, Olu, seŋgi,  dan ŋgulu.  Keenam verba tersebut memiliki kedekatan dalam satu medan makna yang sama yaitu ‘memanen’. Perbedaannya terletak pada Tindakan, Alat, dan Objek yang dipanen berbeda. Asumsi Cara Kerja MSA/NSM dengan Data Bahasa Rote Dialek DengkaAsumsi atau tahapan  untuk  menganalisis verba‚ ‘memanen’ BRDD sebagai  berikut:   X sebagai  subjek  dan  Y  sebagai  objek.  X  melakukan  suatu  tindakan  memanen, alat  yang  digunakan  untuk  memanen, dan objek  yang dipanen oleh X. Pada bagian pembahasan akan digunakan teknik eksplikasi untuk memaknai keenam leksikon dengan makna asalinya. Dari keenam verba memanen diambil beberapa sebagai contoh:

  1. Verba ‘etu’

Verba ‘etu dalam dialek Dengka dapat dilakukan oleh setiap orang, pria, wanita, anak-anak, dan orang tua. Alat yang digunakan bisa dengan tangan, atau dengan alat petik. Tindakan ini dilakukan dengan cara memegang atau mengaitkan alat petik pada buah yang akan dipetik lalu diputar dan menyebabkan obyek terlepas dari tangkainya. Tindakan ‘Memanen’ ini dilakukan hanya sekali saja pada objeknya berupa buah-buahan pada pohon yang tinggi (Mangga, Kelapa, Jambu, Nangka) . Verba ‘etu dalam BRDD, dapat dieksplikasikan sebagai berikut:

X melakukan sesuatu tindakan pada Y

   pada saat yang bersamaan sesuatu terjadi pada Y

X melakukan dengan cara tertentu (memegang atau mengait lalu memutar dan dilakukan langsung pada Y)

X melakukan dengan alat (tangan, dan alat petik)

X melakukannya hanya sekali

Y menjadi terlepas dari tangkai

X mengingini hal ini

X melakukannya tepat seperti yang diinginkannya.

  1. Verba ‘seu’

Verba ‘seu dalam dialek Dengka dapat dilakukan oleh setiap orang, pria, wanita, anak-anak, dan orang tua. Alat yang digunakan adalah tangan. Tindakan ini dilakukan dengan cara memegang buah yang akan dipetik lalu ditarik dan menyebabkan obyek terlepas dari tangkainya. Tindakan ‘Memanen’ ini dilakukan hanya sekali saja pada objeknya berupa kacang-kacangan (Kacang hijau, kacang tanah, kacang nasi, kacang panjang). Verba ‘seu dalam BRDD, dapat dieksplikasikan sebagai berikut:

X melakukan sesuatu tindakan pada Y

 pada saat yang bersamaan sesuatu terjadi pada Y

X melakukan dengan cara tertentu (memegang lalu menarik dan dilakukan langsung pada Y)

X melakukan dengan alat (tangan)

X melakukannya hanya sekali

Y terlepas dari tangkai

X mengingini hal ini

X melakukannya tepat seperti yang diinginkannya. 

 

  1. Verba ‘Olu’

Verba ‘olu dalam dialek Dengka dapat dilakukan oleh setiap orang, pria, wanita, anak-anak, dan orang tua. Alat yang digunakan bisa dengan tangan, pisau kecil dan sabit. Tindakan ini dilakukan dengan cara memegang obyek lalu dipetik atau dipotong dan menyebabkan obyek terlepas dari tangkainya. Tindakan ‘Memanen’ ini dilakukan hanya sekali saja pada objeknya, khusus untuk padi dan gandum. Verba ‘olu dalam BRDD, dapat dieksplikasikan sebagai berikut:

X melakukan sesuatu tindakan pada Y

    pada saat yang bersamaan sesuatu terjadi pada Y

X melakukan dengan cara tertentu (memetik, dan memotong langsung pada Y)

X melakukan dengan alat (tangan, pisau dan sabit)

X melakukannya hanya sekali

Y menjadi terlepas dari tangkai

X mengingini hal ini

X melakukannya tepat seperti yang diinginkannya.

 

Pada kesempatan kuliah umum ini, peserta dihadiri oleh mahasiswa S-2 Ilmu Linguistik Undana dan mahasiswa S-1 Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia. Selain itu, kuliah umum ini juga dihadiri oleh mahasiswa S-2 PIPS bersama Koordinator Program Studi S-2 PIPS, Dr. Hamzah. Direktur Pascasarjana Prof. Tans Feliks juga mengambil bagian dalam sesi diskusi dan hadir sejak awal dalam kuliah umum ini.

Menurut Prof. Tans, kuliah umum ini diharapkan dapat memberi pencerahan aspek keilmuan linguistik, dengan demikian baik guru, wartawan, penulis, pemandu wisata dan bahkan polisi dapat mengambil bagian dalam studi Ilmu Linguistik untuk kepentinag karir mereka. Semua pekerjaan tidak terlepas dari persoalan bahasa. Salah kata membuat orang konflik. Maka dengan demikian ia mengajak untuk belajar ilmu linguistik demi kesejahtraan dan perdamaian bersama.

 

 

Share This Post:

Post Terkait

SEMINAR NASIONAL PROGRAM STUDI PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL  PIPS   PROGRAM PASCASARJANA UNIVERSITAS NUSA CENDANA

SEMINAR NASIONAL PROGRAM...

‘’Tata Kelola Pascaserjana PTN-BLU Menuju PTN-BH” pertama di  gelar PIPS PPs UNDANA pada seminar Nsional. Program studi Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (PIPS)  Program Pascaserjana (PPs)  Universitas Nusa Cendana (UNDANA) Gelar Seminar Nasional dengan tema “Tata Kelola Pascaserjana PTN-BLU Menuju PTN-BH” kegaitan yang di lakukan pada selasa , 06 Desember 2022 bertempat di  Aulah lantai 3 PPs...
Baca Selengkapnya
KULIAH UMUM PROGRAM STUDI  ILMU PENGETAHUAN SOSIAL PROGRAM PASCASARJANA UNIVERSITAS NUSA CENDANA.

KULIAH UMUM PROGRAM STUDI ...

Thema : Masa Depan Generasi Emas 2045 di Tangan Guru Program Studi Ilmu Pengetahuan Sosial Program Pacasarjana Universitas Nusa Cendana Menghadirkan Narsumber Prof.Dr. Ni Nyoman Padmadewi,M.A ( Guru Besar Bidang Linguistik ) di Dampingi Wakil Direktur I Bidang Akademik Dr. Karolus Kopong Medan,SH.,M.Hum dan Kordinator Program Studi Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial Dr.Hamzah Huri Wulakada,SP.,M.Si.  Kuliah Umum Tersebut Berlangsung Pada...
Baca Selengkapnya

Tinggalkan Komentar